Bantuan PKH Disunat Oknum, KPM Menjerit Tak Bisa Belikan Perlengkapan Sekolah Anaknya

LINTAS24NEWS.com – Sungguh tragis dialami Keluarga Penerima Manfaat (KPM) berinisial DN dan D penerima Program Keluarga Harapan (PKH) tahap III di Desa Kampung Melayu Timur, Kecamatan Teluknaga, Kabupaten Tangerang ia hanya bisa bersedih.

Pasalnya uang PKH tahap III yang berada di ATM milik DN dan D diambil oknum dengan jumlah yang pantastis, sehingga niatnya ingin membelikan seragam dan tas untuk sekolah anak-anaknya hanya tinggal khayalan serta mimpi yang tidak kesampaian.

“Saya cuma nerima Rp375.000, tapi di rekening koran uangnya ada Rp975.000, berarti uang saya yang ditarik oknum Rp600.000, niat buat biaya sekolah anak saya jadi batal,” kata DN saat ditemui wartawan di Desa Kampung Melayu Timur, Sabtu (11/9/2021) siang.

Menurut DN, tindakan yang dilakukan oknum sungguh benar-benar tidak manusiawi, saat ini dirinya hanya pasrah dan menunggu belas kasihan oknum untuk mengembalikan uang PKH miliknya seperti biasa.

“Kalau saya rasa ini benar-benar kejam, harapan saya duit dikembalikan seperti biasa, buat biaya sekolah anak-anak saya,” inginnya.

Baca juga:  Reskrim Polsek Curug, Buka Gerai Vaksin di Kampung Onyam

Disisi lain saat dihubungi via telpon what’s app KPM PKH inisial D mengaku kecewa kepada oknum yang telah memotong uang PKH miliknya, sehingga dirinya tidak menerima sepenuhnya bantuan yang dikucurkan pemerintah pusat.

“Awalnya saya ditelpon agen Brilink Sumiati katanya PKH cair, begitu saya sampai di agen dikasih duit Rp975.000, tapi saat saya buat rekening koran di BRI Kampung Melayu jumlahnya Rp1.500.000, duit saya hilang Rp525.000,” paparnya.

Hal serupa diucapkan D, ia pun menginginkan uang PKH yang dipotong oknum dikembalikan kepada dirinya, karena ia sangat membutuhkan uang tersebut untuk mengurangi beban hidupnya bersama suami dan anak-anaknya.

“Mudah-mudah duit PKH milik saya yang dipotong dibalikin lagi, kalau dibalikin uangnya buat biaya hidup saya dan keluarga sehari-hari, serta biaya pendidikan anak saya,” harapnya.

Saat ditemui di Kampung Melayu Timur, Ketua Kelompok EL mengaku mengambil kartu ATM milik KPM dari tangan aparatur Desa Kampung Melayu Timur, kemudian digesek di mesin ATM dan diketahui kartu ATMnya telah terblokir.

Baca juga:  Ketua DPRD dan Praktisi Hukum Apresiasi Polresta Tangerang Ungkap Pengedar Sabu Jaringan Internasional

“ATM dipegang sama Bang Acing aparatur desa, saya ambil terus saya kasih KPM digesek di mesin ATM terblokir, lalu saya minta solusi ke Korcam untuk buka blokiran di Bank BRI Kampung Melayu,” paparnya.

Setelah membuka blokiran, EL dan KPM disarankan Korcam membuat rekening koran ATM atas nama KPM DN, D dan beberapa KPM lain, betapa terkejutnya mereka setelah mengetahui isi ATMnya ada bekas penarikan uang oleh oknum.

“Begitu kita buat rekening koran di BRI Kampung Melayu, terlihat ada bekas tarikan uang di agen Brilink Sumiati, lalu kita kaget dan nangis ramai-ramai di Bank BRI,” ujarnya.

Disisi lain saat ditemui dikediamannya Desa Kampung Melayu Timur, Agen Brilink Sumiati membantah kalau dirinya telah mengambil uang PKH tahap III di ATM milik KPM. Menurutnya apa yang dilakukan sudah sesuai prosedur.

“Saya tidak ngambil uangnya, nama DN dan D saya tidak tahu, karena KPM tidak gesek langsung, biasanya kalau gesek dibawa sama Bang Acing, saya sudah serahkan hasil gesekan yang Bang Acing bawa,” terangnya, Minggu (12/9/21).

Baca juga:  Tingkatkan Kapasitas, Diskominfo Kembali Gelar Workshop SP4N-LAPOR! Kabupaten Tangerang

Sementara itu aparatur Desa Kampung Melayu Timur, Acing saat ditemui di tempat kerjanya menceritakan, kalau dirinya hanya sebatas membantu KPM yang memiliki masalah saat pencairan, agar KPM mendapatkan haknya.

“Kalau ATM KPM ada masalah itu tugas saya yang betulin, soal duit yang dipotong atau hilang itu urusan agen Brilink, coba saja lihat di rekening koran atas nama Brilink siapa, atau kasih ke saya prinan rekening korannya biar saya bantu,” tandasnya. (Red/Ibg)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *