Berita  

Makna Ketupat Yang Menjadi Menu Khas Lebaran Atau Hari Raya Idul Fitri

Ketupat
Poto Ketupat yang belum matang atau dimasak.

LINTAS24NEWS.com, Indonesia adalah negara mayoritas penduduk Muslim terbesar dunia dengan ratusan etnisnya, memiliki ragam tradisi perayaan Idul Fitri atau lebaran yang amat bervariasi, salah satunya dengan kulinernya yang amat terkenal yakni Ketupat.

Ketupat merupakan makanan tradisional yang berbahan dasar beras yang dimasak dengan cara direbus dilapisi atau didalam anyaman Janur.

Ketupat menjadi hidangan istimewa yang melekat saat disajikan di Hari Raya Idul Fitri khususnya di Indonesia.

Berdasarkan informasi yang dilansir dari berbagai sumber, tradisi ketupat ini berawal dari penyebaran agama Islam di pulau Jawa oleh Sunan Kalijaga.

Sunan Kalijaga sendiri merupakan salah satu tokoh Wali Songo yang berperan dalam penyebaran agama Islam di Pulau Jawa.

Baca juga:  Ada Santri Mabok Akibat Konsumsi Hexymer dan Tramadol, Warga Gerebek Kios Kosmetik

Sunan Kalijaga menjadikan Ketupat sebagai budaya dan filosofi Jawa yang berbaur dengan nilai keislaman. Dimana membaurkan pengaruh budaya Hindu pada nilai keislaman, sehingga ada akulturasi budaya antara keduanya.

Sedangkan pengertian Akulturasi yaitu percampuran dua kebudayaan atau lebih yang saling bertemu dan memengaruhi.

Selain itu, biasanya Ketupat juga diantarkan kepada kerabat yang lebih tua sebagai simbol kebersamaan.

Sunan Kalijaga membagikan Ketupat sebagai sarana untuk berdakwah menyebarkan agama Islam. Ini menjadi pendekatan budaya oleh Sunan Kalijaga untuk mengajak orang Jawa untuk memeluk agama Islam pada kala itu.

Secara perlahan, tradisi Ketupat ini menjadi melekat di Indonesia sebagai hidangan Lebaran pada saat berkumpul bersama keluarga, rekan, kerabat dan sebagainya.

Baca juga:  Maklumat Kapolda Banten Selama Ramadan dan Idul fitri 1444 H
Ketupat
Poto Ketupat yang sudah matang atau dimasak.

Ketupat berasal dari kata ‘Kupat’ dan memiliki arti ganda yakni ngaku lepat (mengakui kesalahan) dan laku papat (empat tindakan).

Maka, empat tindakan yang dimaksudkan yaitu luberan (melimpahi), leburan (melebur dosa), lebaran (pintu ampunan terbuka lebar) dan laburan (menyucikan diri).

Selanjutnya, isian beras pada Ketupat dilambangkan sebagai hawa nafsu. Daun kelapa muda atau Janur merupakan singkatan dari jatining nur atau cahaya sejati (hati nurani). Jika digabungkan, Ketupat memiliki arti manusia yang menahan nafsu dengan mengikuti hati nurani.

(Bandi/rdk)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *