Berita  

JAM Pidum Dr Fadil Zumhana Menyetujui 13 Permohonan Restorative Justice

LINTAS24NEWS.com, Jakarta – Jaksa Agung melalui Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Umum (JAM-Pidum) Dr. Fadil Zumhana menyetujui 13 permohonan penghentian penuntutan berdasarkan keadilan restoratif, Selasa (28/3/2023).

Adapun nama-nama tersangka yang melakukan permohonan penghentian penuntutan tersebut sebagai berikut:

Tersangka Fahriyannor bin Ruslan dari Kejaksaan Negeri Tanah Laut yang disangka melanggar pasal 310 ayat (4) undang-undang Republik Indonesia (RI) nomor 22 tahun 2009 tentang lalu lintas dan angkutan jalan.

Tersangka Michael Muyu dari Kejaksaan Negeri Minahasa yang disangka melanggar pasal 351 ayat (1) KUHP tentang penganiayaan.

Tersangka Andre Kurnia Reppi dari Kejaksaan Negeri Minahasa yang disangka melanggar pasal 351 ayat (1) KUHP tentang penganiayaan.

Tersangka Aldo Gijoh dari Kejaksaan Negeri Minahasa Selatan yang disangka melanggar pasal 351 ayat (1) KUHP tentang penganiayaan.

Tersangka Andre Meliano Meliala dari Kejaksaan Negeri Langkat yang disangka melanggar pasal 362 jo, pasal 367 ayat (2) KUHP tentang pencurian dalam keluarga.

Baca juga:  Waduh! Enam Orang Diperiksa Sebagai Saksi, Terkait Dengan Perkara PT Graha Telkom Sigma

Tersangka Taqwim Qoiromdoni dari Kejaksaan Negeri Batu yang disangka melanggar pasal 480 A
ayat (1) KUHP tentang penadahan.

Tersangka Langgeng Insani bin almarhum Sanimam dari Kejaksaan Negeri Blitar yang disangka melanggar pasal 480 ayat (1) KUHP tentang penadahan.

Tersangka Balinggo Budi Susanto alias Ego bin Susanto dari Kejaksaan Negeri Tanjung Perak yang disangka melanggar pasal 44 ayat (1) undang-undang Republik Indonesia nomor 23 tahun 2004 tentang penghapusan kekerasan dalam rumah tangga atau pasal 351 ayat (1) KUHP tentang penganiayaan.

Tersangka Sukolis dari Kejaksaan Negeri Kabupaten Malang yang disangka melanggar pasal 363 ayat (1) ke- 5 KUHP jo pasal 53 KUHP tentang pencurian dengan pemberatan.

Tersangka Jopie Amir bin almarhum Amirudin dari Kejaksaan Negeri Kota Tangerang yang disangka melanggar pasal 351 ayat (1) KUHP tentang penganiayaan.

Tersangka Pabuadi bin almarhum Susmono dari Kejaksaan Negeri Kota Tangerang yang disangka melanggar pasal 351 ayat (1) KUHP tentang penganiayaan.

Baca juga:  Pemkab Tangerang Canangkan Program Gema Patas Untuk Dua Kecamatan

Tersangka Mima Kadarwati alias Ima binti Ukat Suhaerul dari Kejaksaan Negeri Kabupaten Tangerang yang disangka melanggar pasal 480 KUHP tentang penadahan.

Tersangka Septhimas Yonefrita binti Mas Herdi dari Kejaksaan Negeri Metro yang disangka melanggar pasal 351 ayat (1) KUHP tentang penganiayaan.

Alasan pemberian penghentian penuntutan berdasarkan keadilan restoratif ini diberikan antara lain:

•Telah dilaksanakan proses perdamaian dimana tersangka telah meminta maaf dan korban sudah memberikan permohonan maaf.

•Tersangka belum pernah dihukum.

•Tersangka baru pertama kali melakukan perbuatan pidana.

•Ancaman pidana denda atau penjara tidak lebih dari 5 (lima) tahun.

•Tersangka berjanji tidak akan lagi mengulangi perbuatannya.

•Proses perdamaian dilakukan secara sukarela dengan musyawarah untuk mufakat, tanpa tekanan, paksaan, dan intimidasi.

•Tersangka dan korban setuju untuk tidak melanjutkan permasalahan ke persidangan karena tidak akan membawa manfaat yang lebih besar.

Baca juga:  JAM- Pidum Menyetujui Sembilan Permohonan Penghentian Penuntutan Berdasarkan Restorative Justice

•Pertimbangan sosiologis.

•Masyarakat merespon positif.

Selanjutnya, JAM-Pidum memerintahkan kepada para Kepala Kejaksaan Negeri untuk menerbitkan Surat Ketetapan Penghentian Penuntutan (SKP2), berdasarkan keadilan restoratif sesuai peraturan kejaksaan Republik Indonesia nomor 15 tahun 2020 dan Surat Edaran (SE) JAM-Pidum Nomor: 01/E/EJP/02/2022 tanggal 10 Februari 2022 tentang pelaksanaan penghentian penuntutan berdasarkan keadilan restoratif sebagai perwujudan kepastian hukum.

(Bandi/red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *