Lintas24News.com — Tongue tie atau ankyloglossia kerap dicurigai sebagai penyebab bayi sulit menyusu, terutama ketika bayi kesulitan melekat pada payudara, sering terlepas saat menyusu, atau mengalami kendala kenaikan berat badan. Namun, kondisi tersebut bukan satu-satunya penyebab gangguan menyusui. Posisi dan pelekatan yang belum tepat, serta faktor lain dari sisi ibu maupun bayi, juga dapat memengaruhi proses menyusui.
Dokter Spesialis Anak sekaligus Konselor Laktasi Bethsaida Hospital Serang, dr. Viany Rehansyah P, M.Ked(Ped), Sp.A, CBS, menjelaskan bahwa tongue tie memang dapat mengganggu proses menyusu. Meski demikian, penilaian menyeluruh diperlukan untuk memastikan penyebab kesulitan yang dialami bayi.
“Tongue tie memang bisa menjadi salah satu penyebab bayi mengalami kesulitan menyusu, tetapi bukan berarti setiap bayi yang sulit menyusu pasti mengalami tongue tie. Kita perlu melihat proses menyusunya secara menyeluruh,” jelas dr. Viany, Rabu, 21 Oktober 2026.
Mengenal Tongue Tie pada Bayi
Tongue tie atau ankyloglossia merupakan kondisi ketika frenulum, yaitu jaringan yang menghubungkan bagian bawah lidah dengan dasar mulut, membatasi pergerakan lidah.
Gerakan lidah berperan penting dalam proses menyusui, mulai dari membantu bayi melekat pada payudara, mengisap ASI, memindahkan ASI ke dalam mulut, hingga menelannya. Apabila pergerakan lidah benar-benar terbatas, proses menyusu dapat terganggu.
Meski demikian, frenulum yang terlihat pendek tidak otomatis menunjukkan adanya gangguan menyusu. Hal yang lebih penting adalah menilai apakah keterbatasan tersebut benar-benar memengaruhi fungsi lidah bayi.
Penyebab Bayi Sulit Menyusu Tidak Selalu Tongue Tie
Bayi yang belum menyusu secara optimal dapat menunjukkan sejumlah tanda, seperti kesulitan melekat pada payudara, sering terlepas saat menyusu, terdengar bunyi “klik”, menyusu dalam waktu lama, mudah lelah, atau masih tampak belum puas setelah menyusu.
Pada ibu, kondisi tersebut dapat disertai nyeri atau luka pada puting. Sementara itu, kenaikan berat badan bayi yang tidak optimal juga perlu menjadi perhatian.
Namun, tanda-tanda tersebut tidak selalu disebabkan oleh tongue tie. Posisi dan pelekatan menyusu yang belum tepat merupakan salah satu faktor yang dapat memengaruhi keberhasilan menyusui.
Selain itu, bayi yang lahir prematur, mudah mengantuk, mengalami hidung tersumbat, atau memiliki koordinasi mengisap, menelan, dan bernapas yang belum optimal juga dapat mengalami kesulitan menyusu.
Dari sisi ibu, bentuk puting, kondisi payudara, produksi ASI, serta aliran ASI yang terlalu cepat atau lambat turut memengaruhi proses menyusui.
“Masalah menyusui bisa berasal dari bayi, ibu, atau kombinasi keduanya. Karena itu, evaluasinya perlu dilakukan secara menyeluruh, bukan hanya berfokus pada lidah bayi,” terang dr. Viany.
Apakah Semua Tongue Tie Harus Ditangani?
Tidak semua bayi dengan tongue tie memerlukan tindakan medis. Pada sebagian bayi, kesulitan menyusu dapat membaik setelah posisi dan pelekatan diperbaiki serta ibu mendapatkan pendampingan laktasi yang sesuai.
Dalam konsultasi laktasi, dokter dapat mengevaluasi posisi bayi, pelekatan pada payudara, pola isapan, proses menelan, kondisi rongga mulut, perpindahan ASI, serta pertumbuhan dan berat badan bayi.
Tindakan pada frenulum baru dipertimbangkan apabila keterbatasan gerak lidah terbukti menyebabkan gangguan fungsi menyusu yang bermakna.
“Tindakan pada frenulum tidak otomatis diperlukan pada setiap bayi. Yang utama adalah menilai apakah ada gangguan fungsi yang benar-benar memengaruhi proses menyusu,” ujar dr. Viany.
Kapan Orang Tua Perlu Berkonsultasi?
Orang tua disarankan berkonsultasi dengan dokter spesialis anak atau konselor laktasi apabila bayi terus mengalami kesulitan melekat pada payudara, sering terlepas saat menyusu, mudah lelah, menyusu dalam waktu lama tetapi tetap tampak belum puas, atau mengalami kesulitan menaikkan berat badan.
Konsultasi juga dianjurkan apabila ibu mengalami nyeri atau luka pada puting secara berulang.
Evaluasi sejak dini dapat membantu mengidentifikasi penyebab kesulitan menyusu dan menentukan pendampingan yang sesuai bagi ibu dan bayi. Apabila bayi menunjukkan tanda kekurangan asupan atau berat badannya tidak bertambah dengan baik, pemeriksaan medis perlu segera dilakukan.
Bethsaida Hospital Serang menyediakan layanan Dokter Spesialis Anak dan Konseling Laktasi untuk membantu ibu dan bayi menghadapi berbagai tantangan selama proses menyusui.
Direktur Bethsaida Hospital Serang, dr. Tirta Mulya, menyampaikan bahwa keberhasilan menyusui melibatkan kondisi dan kesiapan ibu maupun bayi.
“Melalui layanan Dokter Spesialis Anak yang didukung Konseling Laktasi, kami ingin membantu orang tua mendapatkan evaluasi dan pendampingan yang tepat sejak awal,” pungkasnya. (*)
