JAKARTA, Lintas24News.com — Aksi klakson massal dari para sopir mewarnai antrean panjang hingga lima jam di Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi. Peristiwa ini tidak hanya viral di media sosial, tetapi juga menjadi sorotan publik dan mendorong perhatian dari Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia terhadap pengelolaan arus penyeberangan.

Kondisi tersebut menuai kritik dari berbagai pihak. Direktur Eksekutif Lingkar Studi Muda Nusantara (LSMN), Richard Ahmad Supriyanto, menilai sikap Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi tidak mencerminkan empati terhadap masyarakat yang terdampak langsung di lapangan.

Menurut Richard, antrean panjang tidak hanya melibatkan pemudik, tetapi juga kendaraan logistik seperti truk pengangkut bahan pokok dan sayur-mayur yang hendak menyeberang ke Bali.

“Dari tayangan yang viral terlihat rombongan menteri berjalan begitu saja di tengah antrean panjang. Ini tidak menunjukkan empati kepada rakyat yang sudah menunggu 4 sampai 5 jam,” ujar Richard di Tangerang, Kamis (19/3/2026).

Ia menilai kondisi tersebut menunjukkan adanya jarak antara pejabat negara dan realitas yang dihadapi masyarakat. Seharusnya, kata dia, kehadiran pejabat di lapangan difokuskan untuk mencari solusi konkret, bukan sekadar peninjauan dengan rombongan besar.

Lebih lanjut, Richard mendesak Presiden Prabowo Subianto untuk mengevaluasi kinerja Menteri Perhubungan. Menurutnya, sikap yang terlihat dalam video tersebut tidak mencerminkan keberpihakan kepada rakyat.

“Presiden perlu mengevaluasi menterinya. Pejabat publik harus hadir dengan empati. Jika ingin turun ke lapangan, datanglah tanpa rombongan besar dan cek langsung penyebab antrean yang terjadi,” tegasnya.

LSMN juga mendorong DPR RI untuk turut menyoroti kejadian ini sebagai bahan evaluasi serius terhadap tata kelola transportasi, khususnya saat momentum mudik yang terjadi setiap tahun.

Dalam video yang beredar, rombongan Menteri Perhubungan terlihat berjalan menuju area pelabuhan didampingi sejumlah pejabat lintas instansi. Di saat yang sama, suara klakson kendaraan bersahutan dari antrean panjang yang mengular hingga jauh dari pintu masuk pelabuhan.

Sejumlah sopir bahkan terdengar meneriakkan protes karena telah terjebak kemacetan lebih dari lima jam. Situasi ini kembali menyoroti persoalan klasik dalam pengelolaan arus penyeberangan Jawa–Bali yang kerap mengalami kepadatan ekstrem saat musim mudik dan libur panjang.

Salah satu penumpang, Ahmad Subari, mengungkapkan kekecewaannya. Ia menilai kondisi tersebut seharusnya menjadi perhatian utama bagi pejabat terkait untuk segera dicarikan solusi.

“Kalau pejabatnya peka, apa yang terjadi di depan mata pasti jadi perhatian utama dan segera dicarikan solusi terbaik,” ujarnya.

Subari menambahkan, kemacetan saat mudik memang dapat dimaklumi karena merupakan agenda tahunan. Namun, menurutnya, kondisi tersebut seharusnya bisa diantisipasi dengan perencanaan dan mitigasi yang lebih matang.

“Pemudik itu butuh kepastian waktu perjalanan. Kemacetan mungkin wajar, tapi tidak seharusnya sampai berjam-jam seperti ini,” pungkasnya. (*)