Sejarah Batu Quran Pandeglang Banten Berkaitan dengan Syeh Maulana Mansyurudin

Batu Quran
Sejarah Batu Quran

LINTAS24NEWS.com, BANTEN – Wisata bersejarah Batu Quran Pandeglang yang hingga saat ini ramai dikunjungi wisatawan atau peziarah, merupakan salah satu yang ada di Kabupaten Pandeglang Banten.

Batu Quran Pandeglang merupakan tempat yang bayak dikunjungi pejiarah dari berbagai wilayah di tanah air. Batu Quran Pandeglang yang berupa kolam yang terletak di kaki gunung karang tepatnya sekitar 300 meter dari Kawasan Wisata Cikoromoy, yaitu tepatnya di Kampung Cibulakan, Desa Kadu Bungbang, Kecamatan Cimanuk, Kabupaten Pandeglang, Banten.

Disebut Batu Quran Pandeglang karena di tempat tersebut terdapat batu besar yang bertuliskan Al-Quran. Batu Quran yang dimaksud adalah sebuah batu yang berukuran besar yang ada didasar kolam.

“Ada kaitan erat antara Batu Quran Pandeglang dan ulama besar di Banten pada abad ke-15 Masehi yaitu Syeh Maulana Mansyurudin. Dalam berbagai versi bahwa kemunculan Batu Qur’an tersebut merupakan lokasi pijakan Syeh Maulana Mansyurudin ketika beliau akan pergi ketanah suci mekah untuk berhaji” ucap Ayi Astaman dikutip lintas24news.com dari channel Youtube Jejak Wali, Rabu (8/2/2023).

Baca juga:  Pemkab Tangerang Pantau Ketersediaan Kebutuhan Masyarakat di Pasar Tradisional

Menurut sejarahnya waktu itu beliau hendak ke mekah dan langkahnya diawali dari batu tersebut dan diawali dengan membaca basmalah saja. Karena berangkat dari sana maka dalam kepulangannya setelah selesai menunaikan ibadah haji kepulangannya pun muncul disana bersamaan dengan air yang tak henti memancar dan terus mengalir.

Menurut masyarakat setempat air yang memancar tiada henti tersebut diyakini sebagai air zamzam. Untuk memulai usahanya untuk menghentikan pancaran air tersebut beliau bermunajat kepada Allah dan diawali dengan melakukan salat dua raka’at ditempat pancaran air tersebut.

Ketika beliau selesai salat dan bermunajat turunlah Ilham atau petunjuk dari yang Maha Kuasa agar Syeh Maulana Mansyurudin menutup pancaran air tersebut dengan Al-qur’an.

Baca juga:  Apresiasi Kinerja Kemendagri dan BNPP Tahun 2022, Mendagri: Ini Karena Kekompakan Kita

Akhirnya, atas ijin Allah pacaran air pun berhenti dan berubahlah menjadi batu, karena itulah dinamakan Batu Qur’an dan hingga sekarang air nya tak pernah kering. Orang setempat bilang kalau bisa mengelilingi si Batu selama 7 kali tanpa bernafas itu mungkin bisa keinginan akan dikabulkan tapi melalui Allah swt.

“Disini ada juga penjarahan beserta juru kuncinya penjarahan di tengah-tengah pemandiannya itu ada batu, makanya dinamakan Batuahku. Untuk pemandian laki-laki dan perempuan dipisah tidak bercampur” ujar Ayi Astaman dikutip lintas24news.com dari channel Youtube Jejak Wali, Rabu (8/2/2023).

Siapa sebenarnya Syeh Maulana Mansyurudin itu? Syeh Maulana Mansyurudin adalah seorang raja ke tujuh kesultanan Banten, beliau juga seorang waliyullah yang menyebarkan Islam di wilayah Banten putra bangsawan Banten yaitu putra dari Sultan Ageng Tirtayasa, yang merupakan Raja Banten ke enam. Beliau adalah penyebar agama Islam di wilayah Banten Selatan, atau yang sekarang masuk wilayah Pandeglang Banten.

Baca juga:  Jelang Tahun Baru, Kades Kohod Arsin: Tingkatkan Kewaspadaan

Wisatawan maupun peziarah sangat menikmati kesejukan dan kejernihan mata air yang keluar dari kolam Batu Qur’an mereka mandi dan berendam dikolam yang dingin dan penuh dengan suasana yang adem tenang.

Pengunjung wisatawan menuju pintu masuk cukup dengan membayar Rp 10.000, dan untuk buka operasionalnya ini 24 jam karena ada penjaganya disana setiap 24 jam.

(Adi/red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *