Site icon lintas24news.com

Musrenbang Pakuhaji: Bahas Ketahanan Pangan, Tapi Wartawan Dilarang Makan

LINTAS24NEWS.com – Kecamatan Pakuhaji baru saja menggelar hajatan besar bernama Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang). Temanya mentereng: optimalisasi sektor industri, perdagangan, hingga ketahanan pangan. Namun, tampaknya panitia penyelenggara terlalu menghayati istilah “ketahanan” tersebut, setidaknya dalam menguji seberapa tahan para wartawan menahan lapar di tengah aroma hidangan yang menggoda.

Peristiwa ini terjadi di Gedung Serbaguna (GSG) Kecamatan Pakuhaji. Di saat para pejabat dan tamu undangan asyik berdiskusi tentang kesejahteraan masyarakat yang inklusif, sejumlah jurnalis yang sudah siaga sejak pagi justru mendapatkan perlakuan “spesial”. Alih-alih mendapatkan sambutan hangat sebagai mitra informasi, mereka justru dihadang barikade kata-kata tajam saat hendak menyentuh konsumsi.

“Buat tamu dulu, ntar belakangan aja!” Begitu gertakan salah satu oknum panitia dengan nada emosi yang meledak-ledak. Seolah-olah sepiring nasi kotak adalah aset negara yang sangat rahasia dan hanya boleh disentuh oleh mereka yang memiliki undangan fisik.

Mungkin panitia lupa bahwa wartawan datang membawa kamera dan pena, bukan membawa rantang untuk membungkus sisa prasmanan. Kebijakan “tamu dulu baru kuli tinta” ini menjadi bumbu pahit di tengah pidato manis tentang pembangunan daerah. Padahal, tanpa publikasi dari awak media, gagasan-gagasan hebat di dalam ruangan itu mungkin hanya akan berakhir menjadi tumpukan kertas di laci meja kantor kecamatan.

Sungguh sebuah parodi birokrasi yang sempurna. Di satu sisi, panggung Musrenbang meneriakkan pentingnya keberlanjutan dan kesejahteraan masyarakat. Di sisi lain, panitia menunjukkan praktik “eksklusi pangan” secara nyata kepada rekan-rekan media yang sedang bekerja.

Mungkin di masa depan, panitia perlu memasukkan poin baru dalam anggaran Musrenbang: “Pelatihan Menahan Emosi dan Etika Menghadapi Tamu”. Atau, jika memang anggaran konsumsi begitu mepet hingga wartawan dianggap sebagai ancaman bagi stok makanan tamu, setidaknya sediakanlah pengumuman besar bertuliskan: “Hanya Untuk Tamu, Pers Dilarang Lapar.”

Sinergi antara pemerintah dan pers memang sering digembar-gemborkan dalam sambutan resmi. Namun, kejadian di Pakuhaji membuktikan bahwa sinergi itu terkadang hanya sebatas kata-kata, yang akan langsung luntur saat dihadapkan pada urusan perut dan ego panitia yang merasa lebih berkuasa dari pemilik warung nasi.

(Ibong/Rdk)

Exit mobile version