Site icon lintas24news.com

Ananta Wahana: GSNI Harus Menjadi Kawah Candradimuka Remaja Indonesia yang Tangguh

LINTAS24NEWS.COM — Mantan Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Siswa Nasional Indonesia (GSNI) Surakarta periode 1982–1985 sekaligus mantan Sekretaris Jenderal (Sekjen) GSNI periode 1987–1990, Ananta Wahana, menegaskan bahwa GSNI harus menjadi kawah candradimuka bagi remaja Indonesia dalam membentuk karakter, mental kepemimpinan, dan semangat perjuangan. Menurutnya, organisasi pelajar harus mampu mencetak generasi yang tangguh, berideologi, serta siap menghadapi berbagai tantangan zaman.

Pernyataan tersebut disampaikan Ananta mengapresiasi pelaksanaan Kongres GSNI yang digelar di Surabaya pada 25–27 Juni 2026. Ia menilai kongres menjadi momentum penting untuk memperkuat konsolidasi organisasi sekaligus mengembalikan fungsi utama GSNI sebagai organisasi kader pelajar.

“GSNI harus menjadi kawah candradimuka bagi remaja dan siswa Indonesia yang tangguh, bermental pejuang, tidak mudah mengeluh, dan tidak menjadi generasi yang cengeng,” ujar Ananta, Jumat (26/6/2026).

Selain menjadi tempat pembentukan karakter, Ananta menegaskan GSNI juga harus menjadi wadah persemaian kader nasional yang melahirkan calon-calon pemimpin bangsa dari berbagai daerah di Indonesia.

“GSNI harus menjadi wadah persemaian kader nasional. Organisasi ini harus hadir di mana-mana, tumbuh menjadi taman sari Nusantara yang melahirkan kader-kader terbaik bagi masa depan Indonesia,” katanya.

Menurut Ananta, tantangan organisasi pelajar saat ini semakin berat seiring menguatnya budaya pragmatis yang mengikis kepedulian sosial dan melemahkan pemahaman ideologi di kalangan generasi muda.

“Di tengah situasi yang serba pragmatis, hilangnya tanggung jawab sosial dan minimnya pemahaman ideologi menjadi tantangan tersendiri. Karena itu, kader GSNI jangan bersikap reaksioner dan jangan terlibat dalam politik praktis yang bersifat dukung-mendukung,” tegasnya.

Ia mengingatkan agar GSNI tetap konsisten menjalankan nilai-nilai yang terkandung dalam slogan organisasi, yakni “Menari, Menyanyi, Belajar, Bekerja, dan Berjuang.” Menurutnya, slogan tersebut mencerminkan organisasi pelajar yang kreatif, produktif, sekaligus memiliki semangat pengabdian kepada masyarakat.

Ananta juga menegaskan bahwa penguatan ideologi harus menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari proses kaderisasi.

“GSNI harus terus belajar ideologi, karena ideologi bukan hanya menjadi cara berpikir, tetapi juga menjadi cara hidup,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia meminta para senior GSNI memberikan ruang kepada generasi muda untuk mengembangkan organisasi sesuai tantangan zamannya.

“Biarkan GSNI berkembang sesuai tantangan zamannya. Generasi muda harus diberi ruang untuk berkreasi dan menemukan bentuk perjuangannya sendiri,” katanya.

Ananta juga mengingatkan kader GSNI agar tidak terjebak dalam politik aliran yang dapat menghambat proses kaderisasi dan merusak soliditas organisasi.

Di akhir pernyataannya, ia menyampaikan apresiasi kepada seluruh kader dan senior yang telah membangkitkan kembali GSNI sejak organisasi tersebut lahir kembali pada 2018.

“Saya mengucapkan terima kasih atas segala usaha dan kerja keras dalam membangkitkan kembali GSNI sejak lahir kembali pada 2018. Semoga GSNI terus berkembang menjadi organisasi pelajar yang progresif, berideologi, berpihak kepada kepentingan rakyat, serta mampu melahirkan kader-kader bangsa yang siap mengabdi untuk Indonesia,” pungkasnya. (*)

Exit mobile version